Sabtu, 04 November 2017

Dua Sisi Sayap

Air

Cara Pandang Berbeda



Diantara ratusan santri kawan-kawannya di pesantren, mungkin dia adalah anak muda yang beruntung. Dia sangat bersyukur telah dianugrahi Allah suara merdu nan indah dalam melantunkan ayat-ayat suci Al qur'an. Tidak semua orang ataupun santri memiliki bakat sepertinya.

Terbukti, dalam berbagai macam event perlombaan baca quran tingkat lokal, dia selalu menjadi delegasi andalan dari pesantrennya. Entah sudah berapa piala dia bawa pulang dari beberapa ajang perlombaan tersebut.

Rabu, 16 Agustus 2017

Aku Layang-Layangmu



Mereka bilang kau adalah surga
Hijaumu sejukkan mata
Birumu terhampar indah
Hutan berjubah
Gunung pun semakin gagah

Mereka bersyair
Mereka berpuisi
Berlomba menjelmakanmu dalam uraian kata
Bagiku kau tak hanya sekedar umpama
Bukan khayalan dongeng yang tak dapat tersapa

Terbentang lebar samudra
Dan luasnya benua
kini ku sementara jauh darimu
"Pergilah", katamu
Terbanglah ke angkasa
Namun kau tetap dalam genggaman
Ku ulur terus benang panjang ini
yang terikat di tali kama yang melelai di dadamu
Rengkuhlah birunya langit
Kutetap kendalikan dirimu agar tak singit

Pujian Hati



Pagi itu, dengan (tanpa) sengaja, netraku beradu pandang dengan netranya.
Sepersekian detik hati ini spontan tersesaki decak kagum perihal pesonanya. Berawal dari mata yang tersihir elok parasnya.
Dari mata tergelincir turun ke hati.
Seperti itu. Sesimpel itu.
Tapi..

Tidak! Hati ini berpaling.
Bergeser dari mainstream bagaimana selaiknya pujian dan sanjungan itu teralamatkan.
Sifat khianat yang kukira sudah terkubur dalam-dalam dan mati, ternyata samar-samar kembali menjalar menjajah fikiranku.

"Itu semua hanya karna dirimu sendiri", bisiknya lewat semilir angin yang mendesir.

Andai



Andai kalian enggan membanting tulang
Andai kalian selalu berayun kaki berpangku tangan
Bersembunyi di balik selimut keraguan
Menyembunyikan segala jiwa keberanian
Bagaimana nasib negri kita sekarang

Namun, dengan tingginya semangat juang
Kalian tanggalkan pakaian kegelisahan
Kalian kenakan jubah kepahlawanan
Kalian hilangkan perbedaan yang memisahkan
Dengan sumpah yang menyatukan

Menjadikan satu Indonesia 
Satu bangsa
Satu bahasa
Satu tumpah darah
Terima kasih pemuda

Kini perjuangan kalian terbebankan di pundak kami
Para pemuda masa kini
Tuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini


By : @luthfimrzuky


*alhamdulillah.. puisi ini (walaupun sangat sederhana hehe..) pernah meraih juara 1 lomba puisi yg diadakan Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Hadramaut dlm rangka mengenang "Sumpah Pemuda".. semoga bisa jadi pecut pribadi utk terus berkarya meskipun sederhana...

Rabu, 28 Desember 2016

SELAMAT BERJUANG


==================

Ia kejam. Bahkan ganas, sadis juga bengis. Mendesak jiwa raga tuk -sukarela ataupun terpaksa- siaga demi menyambutnya, minimal separuh purnama sebelum kedatangannya. Tiba-tiba saja namanya melejit. Menjadi buah bibir yg patut dihiraukan pun diingat.

Kini, tebaran terornya mulai tercium. Getarannya kian terasa. Menggegar relung sanubari dalam hati. Menggertak setangkup rival yg tak siap bertanding dengannya. Namanya lebih akrab di telinga Kawan-kawanku di Indonesia dg sebutan ujian akhir semester. Disini, kami menyebutnya ikhtibar fashli.
Sebegitu menyeramkankah parasnya ?

Pantas saja, salah seorang dosen kami, Dr. Musthofa bin Smith mengujarkan, "Al Ikhtibar ma'rokah, wa likulli ma'rokah la budda minasy syuhada'" (Ujian -di Univ. Al-Ahqof- bak peperangan, dan di setiap peperangan harus ada orang2 yg syahid di dalamnya) lantas tersenyum mengembang.

Tegang. Berdebar-debar. Mencekam.
Ku yakin, tak seorang pun dari kita berangan-angan tuk jadi 'syahid' lantaran gempurannya. Tergeletak pasrah tak berdaya di bawah injakan sepatu besinya.

Namun, tunggu. Sejatinya dia baik. Bahkan sangat baik sebab hadirnya merupakan momentum pembuktian. Tanpanya, kau hanyalah prajurit picisan.
Lantaran tak kan lahir ksatria hebat tanpa peperangan.
Dan tak disebut pahlawan superior tanpa pertempuran.
Sebab, ujian adalah penggemblengan mental, pembentukan karakter dan penajaman fikiran.
SELAMAT BERJUANG, kawan! :')

*m.luthfi-srbya
tarim, 291216



Kenangan bersama rektor univ. Al Ahgaff, Prof. Dr. Habib Abdullah Baharun

Selasa, 26 April 2016

BELIAU (3)

Di antara rentetan acara milad beliau malam itu -yang merupakan acara terakhir- adalah pemberian bingkisan sebagai hadiah yang harapannya dapat membuat senang hati beliau, kendati semuanya tak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jasa warisan ilmu serta pendidikan tulus dari beliau.

Termasuk hadiah malam itu adalah :
Beberapa bingkisan berupa obat-obatan, buah² segar, bumbu² dapur,  dan peralatan² lainnya seperti kotak obat & makanan yang dipakai saat di perjalanan.

Selain itu ada hadiah pelengkap, berupa buku kumpulan karya tulis insya' berbahasa Arab dari santri kelas pasca.

Bersama 2 rekan se-kamar, Ust Rizalul Furqon dan Ust IbadurRahman, kami juga menyusun sebuah kitab kecil dengan judul "al-mabadi' at-tajwidiyyah".
Sesuai namanya, kitab kecil ini membahas ilmu² dasar tajwid berisi keterangan dan tanya jawab berbahasa Arab, sebagai pelengkap dari kitab tajwid Abah Yai. Sasarannya adalah beberapa TPQ dan madrasah diniyah yang mengaji al qur'an dan bahasa Arab.


Sekalipun masih jauh dari kata sempurna, dan banyak kekurangan di sana-sini, harapannya adalah karya yang -sekalipun- kecil ini dapat melukiskan secercah senyum bangga di wajah beliau.
Amiin.

Akhiron, semoga kita selaku santri² beliau dapat menjadi santri yg beliau banggakan di hadapan Allah dan Rosululloh. Kita juga berlindung pada Allah agar tidak menjadi santri yang tidak beliau akui. Sebagaimana perkataan Qoys "al majnun" :

كُلٌّ يَدَّعِي وَصَلاً بِلَيْلَى … وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا

(Kullun yadda’i washolan bi Laila… Wa Laila la tuqirru lahum bidzaakaa)

Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila…
Namun Laila menolak pengakuan mereka itu…


Miladukum sa'id , ya sayyidi al-walid ...
*MuhammadLuthfi
#latepost
pas rihlah cangar. Hehe... ⊙▽⊙





BELIAU (2)

*Catatan cinta dari peringatan milad murobbiy arwahina KHM Bashori Alwi

Peringatan milad beliau yang ke 89 M / 91 H kali ini, diadakan pada malam jum'at (14/4) ba'da sholat maghrib berjamaah di aula pesantren. Hadir dalam acara tsb seluruh santri tetap, asatidz dalam, sebagian asatidz senior dan juga beberapa alumni baik yang baru maupun alumni lama.

Diawali dengan bacaan ummul kitab yang dipimpin langsung oleh beliau, Abah Yai Bashori. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al qur'an yang dilantunkan oleh ust Maman Sulaiman.

Usai qiro'ah, disambung dengan 'taqdimul kulaimat' / penyampaian sambutan-sambutan. Sambutan pertama datangnya dari al ustadz Gus Abdulloh Murtadho, mewakili keluarga ndalem. Dilanjutkan oleh Prof. Dr. Nurul Murtadho dan Gus Ali Mustofa yang menyampaikan sambutannya mewakili alumni PIQ. Gus Anas Bashori yang datang belakangan juga sempat menyampaikan sambutannya.
Merupakan acara inti yakni mauidhoh hasanah sekaligus ditutup dengan do'a oleh Abah Yai Bashori. Berikut ini sekelumit coret-coretan saya me-review kembali sambutan² dan mauidhoh tersebut. Semoga ada manfa'at dan faedahnya :


1.) Ust Abdullah Murtadlo:

Beliau mengawali sambutannya dengan mengucapkan salam, pujian dan sholawat kepada Rosululloh. Melanjutkannya dengan menyapa audiens secara runtut dimulai dari kakeknya, Kyai Bashori, asatidz senior, dan seluruh hadirin.

"Kita patut bersyukur kepada Allah Ta'ala sebab sampai saat ini, di usia beliau yang ke 81 M / 91 H, kita masih diberi kesempatan untuk bermu'asyaroh, mengaji dan memandang wajah beliau"

Lantas beliau, ustadz Murtadla menyitir kalam al habib Ali al habsyi, shohibu simthid duror, yang berbunyi :
أيامنا مع شيخنا خير من الأعياد
{hari-hari kita bersama guru kita adalah lebih baik dan lebih utama dari beberapa hari raya}

"Beliau sayyidul jid tercinta adalah sosok teladan yang istiqomah, sabar dan pembimbing ruh dan jasad. Semoga di usia senjanya semakin bertambah keberkahan dan tetap keistiqomahan di dalam menegakkan dan menyebarkan agama Allah dibawah panji Rasulullah saw. Dan patutlah sangat bersyukur kepada Allah karena beliau masih berada di tengah-tengah kita untuk melaksanakan tuah guru beliau dalam menzakati ilmu, mendidik kita tentang ilmu dan adab".

Dan di akhir sambutan beliau membacakan sebuah syi'ir yang beliau gubah sendiri. Syi'ir ini adalah sebagai hadiah khusus dari beliau pribadi, dan juga sbgai bentuk "idkholus surur" / membuat bungah hati kakek sekaligus guru tercinta beliau. Untuk menunjukkan sudah sampai mana beliau belajar bahasa Arab, bahasa firman Tuhannya. Pelajaran dasar beliau dapatkan dari kitab fenomenal karangan kakeknya sendiri, "Madarijud durus al 'arobiyyah", dilanjutkan dengan belajar kitab² berbahasa Arab lainnya, hingga mengembara berburu ilmu sampai ke negri sejuta wali, hadromaut - Yaman. Harapannya semoga beliau tersenyum bangga melihat cucu sekaligus muridnya atas syi'ir gubahannya. Begini bunyinya :

يا من يأتي بالتأديب في الصغر # يا ابن علوي يا من يسمى ببصري
فؤادي أعطانيه ربي ملَان بسرور # و فرح بحبك يا ذا الصوت الجميل

Wahai orang yang mendidik adab yang baik sedari kecil # Wahai putra Alwi yang bernama Basori
Hatiku dianugrahi Tuhanku penuh dengan kabahagiaan # Dan kegembiraan di dalam mencintaimu wahai pemilik suara yang merdu

Begitulah syi'ir yg beliau bacakan malam itu. Namun selang beberapa hari berjalan, ada sedikit revisi sebab menurut beliau ada yang kurang serasi rimanya. Hasilnya :



2.) Ust Nurul Murtadlo :

Beliau mengawali sambutannya dengan menceritakan tentang keuletan belajar beliau serta kesuksesan dalam karir pendidikan beliau hingga bergelar professor doktor dalam bidang linguistik atau kebahasaan. Beliau sudah melanglang buana ke berbagai negara untuk seminar berbahasa Arab dan Inggris. Sebut saja Sudan, Mesir, Tunisia, Arab saudi, Filipina, sampai USA dll . Buku-buku dari hasil goresan tangan beliau pun sudah banyak dihasilkan. Beliau menceritakan semua itu tidak lain semata-mata untuk memberikan motivasi kepada para santri untuk selalu giat dalam belajar.

"Lha lek murid'e ae dadi guru besar, berarti guru ne iku (Yai Bashori, red) gurune guru besar"

Lantas, di akhir sambutan beliau berpesan agar para santri memperkaya bahasa dengan mempelajari lebih dari satu bahasa. Beliau juga berkata :
"Termasuk nasehat guru² terdahulu adalah : dalam masa studi sekarang carilah ilmu segiat-giatnya hafalkan sebanyak-banyaknya tanpa mikir mbesok mau jadi apa. Urusan esok akan jadi apa, serahkan semua kepada Allah, yang penting tetap ikhtiyar dan tawakkal"


3.) Gus Ali Musthofa :

Setelah mengucap salam, rasa syukur dan penghormatan sebagaimana lazimnya sebuah sambutan, dengan ketawadhu'an dan sifat humorisnya beliau nyeletuk :
 "Ini mungkin panitianya sengaja mengundang 2 alumni yg saling bertolak belakang. Yang pertama alumni prestasi satunya alumni frustasi. Satunya sudah keliling dunia satunya keliling 7 keliling, pusing maksudnya". Spontan, gelak tawa pun tak terhindarkan di aula pesantren malam itu.

"Kalau semua ditangani oleh ahlinya hasilnya tidak akan sia-sia. Beliau KHM Basori Alwi adalah seperti seorang koki handal yang apapun bahan makanan kalau diracik beliau pasti akan jadi makanan yang lezat. Siapapun yang pernah belajar kepada beliau pasti hidupnya akan berhasil dan berkah dengan syarat tetap konsisten mengikuti manhaj beliau dan tidak melenceng. Jadi apapun kalian nantinya, akan menjadi seorang yang bermakna hidupnya, berkat beliau. Begitulah sosok murobbiy yang tak pernah luput di dalam mendoakan santri-santri beliau di setiap munajat dan sholatnya"


4.) Gus Anas Bashori

Beliau mengawali sambutan dg mengucap salam, pujian dan sholawat. Serta tak lupa menyapa hadirin dimulai dari ayahanda beliau dg sebutan "sayyidy al-walid".

Dari putra pertama, kakak beliau Gus Farid, Bu Saadah, alm Gus Anis, Gus Anas, Bu Hanik, Bu Ummu, Gus Rifat dst, beliau semua tidak pernah dikenalkan perihal ulang tahun. Tapi ketika datang milad beliau-beliau, abah yai mendoakan beliau dan ada sedikit selametan kecil²an bentuk tasyakkur. Menurut Gus Anas sebenarnya tidak ada istilah ulang tahun itu, yang ada yakni kurang umur. Karena semakin umur bertambah, maka semakin berkuranglah sisa hidup di dunia ini.

Gus Anas juga menyampaikan, di usia senja abahnya saat ini, beliaulah salah satu putra yang mem"back-up" undangan² abahnya di berbagai daerah. Namun beliau mengatakan bahwa beliau hanya bisa men-cover tidak lebih 10% dari kegiatan dakwah keliling ayahanda tercinta beliau. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada bandingannya dengan apa yang dilakukan oleh ayahanda beliau yang istiqomah mengajar di berbagai tempat hingga sekarang ini. MasyaAllah.

Beliau gus Anas Bashori mendo'akan semoga kita semua menjadi santri yg bisa dibanggakan Abah Yai, apapun bentuknya.


•} KHM Bashori Alwi


Setelah mengucap salam, pujian dan sholawat, dengan suara sedikit serak namun lembut khas beliau, tak pernah lupa beliau memanggil seluruh santrinya dengan panggilan kasih sayang :

"Anak-anakku sekalian yang aku sayangi, aku cintai. Baik yg sudah mencapai sukses yg tinggi, juga yg telah sukses dakwah bermasyarakat dan yang lain² tanpa mengurangi penghormatan & kecintaan"

Memang dg kalimat "anak²ku" seperti inilah yg mesti beliau awali untuk memanggil santri² nya. Semenjak awal kali Allah mempertemukan beliau dengan saya, atau bahkan jauuh sebelum itu. Sebagaimana panggilan orang tua kepada anak kandungnya sendiri. Dan selalu beliau lanjutkan panggilan itu dengan doa indah :
"Yang semoga berbahagia di dunia dan akhirat"

Lantas, di awal mauidhoh, beliau menjelaskan bahwa di usia sepuh nya saat ini, kerap kali beliau lupa banyak hal. Bahkan terkadang di tengah² berdoa pun sempat terputus, karena lupa teksnya. Namun menurut beliau memang sudah waktunya beliau merasakan hal yg seperti itu. Manusiawi.
"Waman nu'ammirhu nunakkishu fil kholq..." (Barang siapa yg Kami panjangkan umurnya, maka Kami kurangi -kualitas- fisiknya...).
Termasuk tanggal lahir dan usia beliau sekarang pun beliau tdk ingat.
"Untung yg ndak lupa itu nama "mantan pacar" saya (bu nyai)".
Sontak saja, gemuruh tawa pun terlepas menyusul humor beliau tsb.

Beliau meneruskan mauidhoh hasanah dengan menceritakan masa belajar beliau di Solo kepada Kyai Dimyati al karim. Bagaimana beliau khidmah membersikan madrasah, menyapu dan 'mengangsu' air untuk memenuhi bak kamar mandi guru beliau. Kesemuanya itu beliau kerjakan atas inisiatif beliau sendiri, sehingga beliau dicintai oleh Kyai Dimyati dan Nyai Dimyati. Tiap pagi pun beliau dibuatkan kopi oleh Nyai Dimyati.

"Untung saja Kyai dan bunyai ndak punya anak perempuan. Kira² kalau punya yaa saya dijadikan mantu dan PIQ ndak akan ada".

Selepas belajar di madrasah beliau langsung membawa beberapa kitabnya ke toko kitab Kyai Dimyati dan meminta izin untuk membantu menjaga toko kitabnya. Di sela-sela waktu jika beliau tidak paham akan apa yang beliau pelajari, beliau tanyakan kepada kyai Dimyati. Beliau juga berinisiatif mengumpulkan mufrodat bahasa arab yang beliau kelompokkan sesuai dengan kategorinya, misal dapur, beliau mengumpulkan mufrodat benda apa saja yang ada di dalamnya, Sekolah, Ruang tamu, kamar, dst . Kalau beliau tidak tahu bahasa arabnya, beliau tanyakan kepada kyai Dimyati. Dari sinilah cikal bakal kitab madarij beliau bermula.

Seiring waktu berjalan, terjadi serangan Belanda. Termasuk kota Solo diduduki dan dijajah oleh mrk. Ini menyebabkan beliau harus kembali ke Malang. Sebelum pulang ke kampung halaman, kyai Dimyati mewasiatkan kepada beliau "Bashori... likulli syai'in zakatun wa zakatul ilmi at ta'lim", (segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakatnya ilmu adalah mengajarkannya).
Dengan senang hati beliau terima wasiat itu dan tak terlupakan sampai detik ini beliau sampaikan kepada santri beliau yang hendak pamit boyong dari pesantren.

Setelah itu beliau pulang dengan perbekalan pakaian secukupnya dengan berjalan kaki melewati pegunungan, dari Solo ke Singosari, yang menempuh waktu satu bulan untuk sampai ke Singosari. Perbekalan pakaian beliau habis terjual di dalam perjalanan untuk mengganjal perut agar tetap kuat melakukan perjalanan pulang.

Ketika sampai di Singosari kala itu ternyata semua rumah dan bangunan yang ada di sana telah dibakar dan dibumi hanguskan oleh kolonial Belanda. Yang menakjubkan rumah beliau yang saat ini jadi pesantren ini tidak dibakar maupun dihancurkan namun menjadi markas tentara hizbulloh. Beliau menjelaskan bahwa ini semua karena berkah khidmah beliau kepada kyai Dimyati yang dilakukan tanpa pamrih. Walhasil, ternyata ketika beliau sampai di singosari ayah, ibu beserta keluarga sudah bertolak ke surabaya semua karena singosari kala itu juga sudah diduduki oleh Belanda.

Akhirnya beliau putuskan untuk menyusul & mengungsi ke Surabaya. Atas izin Allah beliau sampai di surabaya dengan aman dan selamat, tidak sampai tertangkap oleh kolonial belanda. Wasiat yang diberikan oleh kyai Dimyati terus tertancap kuat di dalam benak beliau, maka beliaupun mulai mengajarkan al quran kepada keponakan beliau. Karena beliau mengajarnya dengan suara lantang, maka banyaklah anak-anak yang datang dan sekedar menengok. Melihat hal itu, beliau menyuruh anak-anak itu ikut masuk dan ikut belajar.

Selanjutnya beliau juga mengisahkan tentang beliau dan anak seorang kaya raya bernama Shodiq. Dan benar saja, setelah beliau melaksanakan wasiat guru tercinta beliau yaitu menzakati ilmu dengan mengajar, sesuai dengan makna zakat yaitu an nama' (bertambah), maka bertambahlah segala sesuatu yang ada pada diri beliau, mulai dari kue klepon sampai diundang ke mana-mana untuk baca quran (Allah menganugrahi beliau suara yang merdu nan indah) dan diundang tausiah di berbagai tempat. Uangpun datang sendiri ke beliau tanpa harus beliau cari, sejak saat awal mengajar sampai sekarang beliau tidak bekerja dan hidup beliau dicukupi oleh Allah. Beliau berpesan agar berniat lillahi taala ketika mengajarkan ilmu tanpa ada embel-embel untuk mencari dunia serta tidak memberikan tarif kepada orang yang hendak belajar. Jangan berharap diberi uang, tapi kalau diberi diterima jangan ditolak karena itu adalah rejeki dari Allah, dalam bahasa jawa sering beliau sampaikan (Gak arep-arep, lek dikei yo arep).

Beliau menceritakan dulu juga pernah belajar bahasa inggris kepada ustadz Nasib waktu di surabaya hingga beliau mahir. Beliau ditugaskan negara untuk berkeliling ke sebelas negara untuk baca quran, termasuk negara yang dikunjungi adalah USA. Bahkan saat kembali dari tugas negara itu, beliau dapat berceramah dengan menggunakan bahasa inggris (speech) selama satu jam non stop. Namun, kata beliau, kemahiran berbahasa inggris beliau kini sudah hilang karena tidak pernah beliau gunakan, sambil bergurau beliau mengatakan bahwa hanya satu yang masih sangat beliau ingat yaitu kalimat "I Love You" (dengan fasih beliau ucapkan hingga mengundang tawa dari para santri dan alumni yang hadir malam itu).

Sebelum beliau mengakhiri mauidloh hasanah, beliau teringat sesuatu, yaitu ketika kecil beliau bersekolah di daerah Malang, sekolah ini adalah sekolah belanda sehingga para murid pun diajarkan bahasa belanda, namun beliau saat itu tidak mahir dalam bahasa belanda. Nah, ketika berangkat ke sekolah naik kereta, beliau menjumpai siswa-siswa yang lain di dalam kereta, mereka bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa belanda, karena beliau tidak mau kalah dengan mereka, akhirnya beliau berbicara dengan bahasa arab fasih sehingga membuat para siswa itu terbengong dan takjub kepada beliau, padahal dalam hati beliau bergumam yang beliau ucapkan itu tidak lain dinukil dari maulid diba' yaitu lafad :
"sholatulloh ma lahat kawakib, alahmad khoiri marokiban najaib"
(beliau baca dengan lahjah fasih orang Arab), sontak, kelakar tawa terdengar memenuhi aula malam itu. Kemudian beliau tutup tausiah beliau dengan doa.

*MuhammadLuthfi
Singosari, Jumat 15 April 2016
#latepost

Sabtu, 23 April 2016

BELIAU (1)



Karpet merah terbentang memanjang rela tuk jadi pijakannya. Ratusan santri berjubah putih berjajar rapi siap menyambut kedatangannya. Saling menundukkan pandangan ke bawah, tanda ta’dhzim akan sosok pribadinya. Gemuruh lantunan qoshidah “thola’al badru” santer terdengar di seluruh penjuru aula. Bagai seorang raja yang dipandu pengawalnya...
Ah, tidak juga. Bahkan lebih dari sekedar raja. Semua orang pun patuh dan tunduk akan haibah dan wibawanya.

Yah, malam itu merupakan malam yang sangat spesial bagi siapapun yang hadir dalam majlis itu. Majlis indah. Majlis berkah. Majlis hammasah.

15 April, adalah hari dimana Allah menghadirkan di tengah-tengah kami, sosok pendidik sekaligus orang tua yang kami jadikan tauladan dan panutan hidup kami.

Malam itu, genaplah usianya menginjak angka 89 tahun Miladiyyah dan 91 tahun Hijriyyah. Namun di usia senjanya, beliau tak kehilangan kharismanya sebagai seorang pembimbing juga murobby.

Laksana pegunungan dengan hijau tanamannya. Sumber mata air dengan kesegaran airnya. Dan dataran tinggi dengan angin sepoi-sepoinya. Beliau pun tak akan pernah terlepas dari keseharian hidupnya dalam pengajaran dan pendidikan.
Seakan-akan sengaja beliau dilahirkan dan ditakdirkan oleh Allah sebagai seorang pengajar. Yang kan menghembuskan benih-benih al-Qur'an kepada bibit-bibit kecil di sekitarnya. Memupuk, menyirami dan memeliharanya dengan kasih sayang dan penuh cinta. Sehingga secara perlahan dan pasti bibit-bibit tersebut mulai tumbuh subur menjadi tumbuhan bernafaskan Al-Qur'an dan ilmu-ilmu ajaran islam, sampai bisa menjadi sebuah pohon besar yang mengayomi orang-orang yang berteduh di bawahnya. Dan memberikan manfaat bagi sekitarnya. -semoga- .

Rasa syukur kami ucapkan tiada terkira kepada Allah Ta'ala, yang telah mempertemukan dan menjodohkan kami dengan sosok tersebut dalam ikatan suci guru dan murid, yang kan kekal abadi di dunia dan akhirat nanti -insyaAllah- .

Tak lupa, kami pun selalu memohon kepada Allah agar memberikan beliau balasan terbaik dari sisi-Nya. Selalu meridhoi langkah hidupnya. Dan memanjangkan usianya dalam ta'at Allah dan Rasulullah, hingga dapat selalu membimbing dan mengarahkan hidup para santri dan pecintanya. Bukan hanya membimbing tuk mencapai kebahagiaan di negri fatamorgana bernama 'dunia'. Namun juga kebahagiaan abadi kelak di surga-Nya. Amiin. Ya Robbal 'alamin.

Sanah Hilwah Ya Abat Tholabah.
Syaikhy wa murobby, KH. M. Bashori Alwi



(*Tholibukum wa Muhibbukum :
~Muhammad_Luthfi
😇😇😇

#Latepost

Selasa, 05 Januari 2016

Mencium Rosululloh

Pagi ini , selasa (05-01-16) , ya , selasa , kalau di tanggal blog ini tertulis hari senin berarti memang tanggalnya telat sehari . agenda kami yang pertama adalah ziaroh sekaligus silaturrahim pd guru kami al ustadz Sholihin Jaiz , pengasuh pesantren Darut Thoyyibah , Singosari , alumnus PIQ dan murid langsung As sayyid Muhammad bin Alwi al maliki - Makkah .

Kami ziaroh ke 'ndalem' beliau karena telah mendengar kabar bahwa beliau hendak umroh sekaligus memenuhi panggilan putra yg juga kholifah Abuya Sayyid Muhammad , yakni Sayyid Ahmad . Setelah panjang lebar beliau menceritakan kehidupan Abuya , keilmuan , karomah , kata-kata mutiara serta cerita mengenai wafatnya beliau , yang langsung kami dengarkan dr saksi hidup yg telah mengetahui langsung karomah beliau ,
Setelah itu kami pamitan pd ust. Sholihin untuk kembali ke pesantren .

Agenda kedua setelah dr ndalem ust.Sholihin adalah menjenguk putra dari ust. Mukhlisin , salah seorg ustadz senior PIQ , di jalan Tumapel . Beliau mendapat cobaan bahwa putra beliau yg ke 7 yg masih bayi ditimpa sakit di kepalanya yg mengharuskan untuk operasi .

Saat aku dan rombongan akan masuk ndalem beliau , beliau sudah menunggu di gerbang dan akupun mencium tangan beliau . Lantas beliau berkata pada kami , " wah , iki rejekine arek2 iki " .

Dengan segenap rasa penasaran dan tanda tanya besar dalam hati , "apa maksudnya rejeki yg dikatakan beliau ya?" , akhirnya kami masuk dan ternyata di ruang tamu sdh ada beberapa org , sekitar 5 org . Di antara mereka ada seorang syekh yg ternyata datang dr negara Oman , di depan beliau ada lagi seorg laki2 paruh baya yg sepertinya merupakan 'tangan kanan' beliau . Setelah aku salaman dgnya , dia menunjukkan sebuah tabung dan memperlihatkan isinya padaku , seraya berkata " itu , kelihatan ya , ada satu helai di dalamnya , silahkan dicium " .

Setelah kuamati , di dalam tabung tsb terdapat sehelai rambut berwarna hitam kecoklatan , saat itu pun aku diberi tahu bahwa rambut tsb adalah rambut Rosululloh shollallohu 'alahi wa sallam !!!
Kemudian dengan penuh ta'dhzim dan rasa cinta mendalam, kucium itu sambil mata terpejam berkaca-kaca dan hati berdesir. MasyaAllooh .
Selain ada rambut Rosululloh , ada juga potongan kiswah ka'bah luar & dalam yg juga sempat kucium .

Aku jadi teringat cerita salah seorg sahabat nabi
bernama Ukasyah bin Muhsin yang memeluk Rosululloh , mempertemukan anggota tubuhnya dg anggota tubuh Rosululloh , karena dia tahu bahwa anggota tubuh Rosululloh tak akan mungkin tersentuh api neraka . Kurang lebih begini cerita lengkapnya : (maaf ya , copas , hehehe :D )

----------____(^_^)____---------

Menjelang Rosululloh Saw wafat , Nabi memanggil para sahabatnya untuk berkumpul. “Wahai kaum Muslimin siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil Qhisos, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik dari pada nanti aku akan menanggung semuanya di akherat . Semua sahabat terdiam ,lalu berdirilah Sahabat yang bernama Ukasyah Ibnu Muhsin, “saya Ya Rosul….Saya akan menuntut hukuman Qhisas kepada mu Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat mencium Paha mu Saat itu engkau melecutkan Tongkat kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambungku” ucap ‘Ukasyah dengan lantang.

Baiklah Ya Ukasyah..aku kan terima hukuman Qhisas ini “Jawab Rosulululloh Saw, lalu Rosul menyuruh bilal mengambil tongkat Nya di rumah fatimah anaknya Rosululloh. Bilal bergegas menuju Rumah Fatimah untuk mengambil Tongkat Rosululloh, Apa yang akan dilakukan Ayahku dengan tongkatnya wahai bilal ” Tanya Fatimah. “Ada seoarang sahabat yang akan melakukan Qhisos Kepada Rosulululloh” Jawab Bilal. Dengan nada Marah Fatimah menjawab ” Siapa gerangan yang tega mengqhisos kepada Rosululloh “!! . Bilal tidak menjawab dan bergegas pergi untuk menyerahkan tongkat tersebut Kepada Rosululloh SAW.



Lalu Rosululloh Saw menyerahkan tongkat tersebut kepada Ukasyah bin muhsin, untuk segera melakukan qhisas terhadap Rosulululloh Saw. Lalu tiba-tibalah berdirilah Sahabat Abu bakar dan Umar, “Hai Ukasyah biar aku saja yang menggantikan Rosululloh untuk di qhisas kau pilih bagian mana saja sesukamu untuk kau pukul tongkat itu ke tubuhku “Kata Abu bakar yang sejak tadi menahan amarah karena tidak tega melihat rosululolloh akan di sakiti. “Jangan Hai Abu bakar Alloh telah menempatkan kedudukan dan niatmu di akherat nanti..duduklah ” Jawab Rosululloh. Bangkitlah Sayyidina Ali” Aku kemana-mana selalu bersama rosululloh, maka qishas lah aku …jangan kau qhisas Rosulullloh ” Kata Sayyidina Ali RA. “duduklah Hai Ali …Alloh juga telah menempatkan keduduan dan Niatmu ” Jawab Rosululloh. Tampilah cucu-cucu kesayangan Rosululloh Hasan dan Husein ditengah kerumunan Sahabat ” Kamu tahu kami adalah cucu-cucu rosululoh, biar kami saja yang kau qhisas itu sama saja dengan kau mengqhisas rosululloh ” kata Hasan husein .”duduklah kalian Wahai dua bola mataku.” kata rosululloh.

Suasana begitu tegang dan mengharukan ,karena semua sahabat tidak tega Manusia suci yang mereka cintai akan di cambuk dengan Tongkat oleh Ukasyah. Lalu Ukasyah meminta kepada rosululoh untuk membuka bajunya” Wahai Rosululloh sewaktu kau memukulku dengan tongkat, waktu itu aku sedang tidak pakai baju jadi aku minta kepada engkau untuk melepaskan Bajumu” kata Ukasyah. Lalu Rosululloh membuka bajunya terlihatlah Tubuh rosululloh yang putih bersih memancarkan cahaya, tiba-tiba Ukasyah memeluk tubuh putih tersebut sambil menciumnya dengan linangan air mata ukasyah yang menempel di tubuh rosululloh sambil berkata” Ya rosululloh siapa yang tega memukulmu…aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuh sucimu agar tubuhku bisa terlindungi dari jilatan api neraka” Para sahabat yang sejak tadi manangis meyaksikan peristiwa tersebut berkumandang takbir Alloh huakbar…’ Wahai para sahabatku kalau kau ingin melihat penghuni surga dialah orangnya “kata rosululloh Saw sambil memeluk Ukasyah

------____------

Selain sahabat Ukasyah , ada juga sahabat nabi bernama Khalid bin Walid , seorang panglima perang islam yg sangat kuat , bahkan Nabi Muhammad menjuluki bwliau dengan julukan : "Saifulloh al maslul (pedang Alloh yg terhunus).

Beliau , sahabat Khalid bin Walid  bertabarruk dengan rambut ubun-ubun Rasulullah , ditaruh di dalam kopiahnya (songkok). Sahabat Kholid berkata: Saya tidak pernah mendatangi perang dengan membawa songkok tersebut (yang berisi rambut Rasulullah), kecuali setiap peperangan saya selalu diberi kemenangan” .

Alhamdulillaaah , hari yang berkah , insyaAlloh ,  bersama orang2 mulia. (*^_^*) (´ヮ`) (#^.^#) (*^▽^*)

   ...اللهم اجعلنا ممن يستوجب شفاعته يوم القيامة
امييين ، يا مجيب السائلين


*muhammad luthfi
Singosari-malang
\(^▽^@)ノ

Bukan ini tapi . Kalo ini nyari di mbah gogel :D

Salah satu putra ust.Mukhlisin

Alhamdulillaah [(^_^)]

Senin, 05 Oktober 2015

Lomba Insya - GAZA UIN MALIKI 2014

"Pendidikan Berkarakter Merupakan Model Pembelajaran Terbaik"

Oleh : Muhammad Luthfi , PIQ


Hal.1

Hal.2

Hal.3

Hal.4

Hal.5

Hal.6

Semoga bermanfa'at ,
Mohon tasheh nya yaa ...
Syukron jaziilan !!
(^_^)

Kamis, 24 September 2015

Kenang-Kenangan ku


Judul insya'nya di 👆typo , seharusnya "Pendidikan Berkarakter Merupakan Model Pembelajaran Terbaik".
😀😀😀

Sabtu, 08 Agustus 2015

BELAJAR ALQURAN DAN PERAN PENTINGNYA DI DALAM MEMBANGUN PERADABAN (bagian akhir)


Oleh : Al ustadz Gus Abdullah Murtadho

PERAN PEMEGANG ALQURAN 

Sesungguhnya peran pemegang Alquran di dalam pembangunan peradaban itu teraplikasikan pada perkara-perkara berikut ini.
1. Peduli terhadap kehidupan secara aktif , penuh kesungguhan dan kekuatan.
2. Beramal dengan kemampuan yang paling maksimal
3. Zuhud terhadap dunia dan cinta akherat
4. Berupaya sungguh-sungguh dalam penerjamahan Alquran kedalam realita kehidupan dan membiasakan diri di dalam pengamalannya
Dan ketika telah sempurna praktek dari seluruh unsur-unsur ini kemudian ditularkan kepada masyarakat melalui pendidikan ala rabbaniyyin (para ulama yang memiliki kebijaksanaan) yang memiliki ilmu dan mengajarkannya, maka kita akan mendapati peradaban yang luhur dan mulia ,  yang mampu mewujudkan nilai islam dan keagungan akhlaqnya dan dibangun diatas pondasi Alquran dzikir dan iman dan diliputi nilai-nilai keadilan, kemerdekaan, kasih sayang, persaudaraan, tolong menolong, tenggang rasa, ridha dan menghormati orang lain beserta seluruh nilai islam yang agung. Ketika itu terwujudlah masyarakat yang suci dan bersih dimana jiwa manusia didalamnya merasa nyaman , tentram , ridha, dan tenang dan hidup dibawah naungan bayang-bayang yang teduh dan tenang.

ILMU ADALAH POKOK PERADABAN.

Sungguh nikmat kehidupan kaum muslimin dan siapa saja yang ada disekitar mereka berkat buah peradaban yang diwujudkan oleh Islam yang luhur manakala dipenuhi para pemegang Alquran dari kalangan para murabby yang terus berupaya mendapatkan Alquran dengan sungguh-sungguh dan menerimanya dengan suka cita dan rindu kemudian mempraktekkan pendidikan serta pengajarannya kepada manusia dengan amanah dan ikhlas. Konon peradaban Islam Arab merupakan peradaban yang belum pernah ada tandingannya di dalam sejarah peradaban umat manusia dan belum pernah ada yang lebih maju dari mereka yang hidup di peradaban tersebut.
Ilmulah yang telah memajukan peradaban arab menuju alam yang baru dan menyeluruh. Dan layak disebutkan bahwasannya tidak didapati satu aspek dari aspek-aspek perkembangan peradaban kecuali jelas di mata manusia bahwa didalamnya terdapat jejak peradaban dan pengetahuan bangsa arab, dan pengaruh terbesarnya adalah agama islam yang memotori praktek ilmiyah di kehidupan. Sesungguhnya pengakuan bahwa Eropalah yang telah menemukan metode eksperimen adalah merupakan pengakuan palsu dan jauh dari kebenaran baik secara global maupun terperinci. Justru pemikiran islamlah yang mengatakan : lihat, pikirkan, kerjakan, bereksperimenlah hingga engkau mencapai keyakinan ilmiyah
Kita tidak boleh lupa bahwa masa perkembangan peradaban arab telah menjadi sesuatu yang istimewa berkat orisinalitas yang tinggi yang kemudian menjelma menjadi pembebas peradaban tersebut. Bangsa-bangsa lain yang datang untuk menjiplak ilmu mereka tersebut konon mengikuti jejak pendekatan hukum yang sama didalam pertumbuhan ilmu-ilmu dan transformasinya. Sayangnya hal tersebut diperselisihkan oleh para ilmuwan muslim. Padahal konon jalan pencarian ilmu dan pendalamannya ini tercatat hanya satu contoh saja didalam sejarah”.
Akhirnya, apabila kita ingin menapaki langkah yang pertama pada arah yang benar semisal membangun peradaban arab islam yang tinggi menjulang, dan kembali mengulang keluhuran peradaban kita yang masih segar dalam ingatan kita dengan penuh kerinduan, maka kita harus kembali kepada pembelajaran Alquran, pengajarannya , penghafalan, pemahaman dan tadabbur. Itu merupakan asas yang mana kita terbangun dan berangkat darinya. Oleh sebab itu marilah kita mengikuti jejak generasi rabbaniy terdahulu yang telah membangun kehidupannya di atas asas Alquran pemahamannya, prakteknya  pada peradaban mereka yang agung gemilang.

Belajar Alquran dan Peran Pentingnya di dalam Membangun Peradaban (bag.4)


 Oleh : Al ustadz Gus Abdullah Murtadho

Verifikasi Pengetahuan

Setiap kali manusia selesai mencari dan berhasil mendapatkan ilmu maka harus ada proses verifikasi dan pembuktian sampai ia benar-benar keluar dari gelapnya keraguan dan kebimbangan menuju cahaya kebenaran dan hidayahnya yang terang benderang: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS Al Isra, 36).

Sungguh semuanya itu merupakan pertanggungjawaban yang berat dan amanah yang besar. Maka tidak boleh seseorang mengikuti perkara apa saja yang ia tidak memiliki pengetahuan tentang perkara tersebut atau menempatkan diri pada posisi ketidaktahuan dan ketidakjelasan. Seseorang tidak boleh mengambil posisi atau keputusan kecuali setelah mendapatkan ilmu, pengetahuan, kesadaran dan mengadakan penelitian.

Coba kita perhatikan bagaimana Allah SWT menekankan hakekat perkara ini.  Ketika Allah SWT mengharamkan kekejian dan dosa-dosa besar, Allah swt mengharamkan pula suatu ucapan yang tanpa didasari ilmu seolah hal itu merupakan salah satu diantara perbuatan keji dan dosa besar tersebut bahkan digandengkan dengan kesyirikan yang notabene paling besarnya dan beratnya dosa. Allah swt berfirman :
“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS AL A’raf, 33).

Sesungguhnya banyak sekali tersurat pada Nash-nash Alquran dan hadits-hadits bahwasannya Islam sangat perhatian sekali di dalam menyandarkan sesuatu terhadap bantuan ilmu dan pengetahuan, dan Islam juga mengangkat derajat dan martabat para ulama (ilmuwan). Ini merupakan sebuah isyarah bahwa ilmu itu merupakan satu-satunya jalan bagi manusia untuk dapat sampai kepada ma’rifatullah alias pengenalan terhadap Sang Pencipta swt. Ilmu juga merupakan satu-satunya jalan untuk dapat mendirikan peradaban yang lurus dan luhur, dan mengangkat nilai manusia sang pendiri peradaban.
Pemegang Alquranul karim dan kedudukan mereka.

Alquran menjelaskan bahwa para pemegang Alquran merupakan ahli ilmu, Allah swt berfirman :
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS Al Ankabut, 49).
Dan Rasulullah saw menjelaskan kedudukan pemegang Alquran, beliau bersabda “ sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari golongan manusia, ahli quran adalah keluarga dan orang khususnya Allah swt”

Para pemegang Alquran sungguh telah diistimewakan para sahabat sebab mereka adalah sosok yang  zuhudnya terhadap dunia, perhatiannya terhadap akherat, manfaatnya bagi manusia, kesungguhannya dalam berjihad di jalan Allah dan kesabarannya terhadap serangan para musuh paling besar diantara manusia. Berbagai peristiwa telah menceritakan hal ini kepada kita, diantaranya ketika perang yamamah sebagian sahabat berkata kepada salim maula abu hudzaifah “ wahai Salim kami takut jika kami dihabisi sebelum kamu! Lalu berkatalah salim “ pemegang Alquran yang paling buruk adalah aku jika kalian dihabisi sebelumku”.

Ibnu Mas’ud ra berpendapat bahwa pemegang Alquran itu wajib diistimewakan dari manusia lainnya di dalam kesungguhan , kezuhudan, ibadah dan ketawadhu’an mereka. Lantas ia berkata “ semestinya pemegang Alquran itu dikenal dengan ibadah malamnya ketika para manusia sedang tidur dan dengan puasa siang harinya ketika manusia tidak berpuasa, dan dengan kesedihannya ketika manusia sedang gembira dan dengan tangisannya ketika manusia tertawa dan dengan diamnya ketika manusia banyak bicara dan dengan kekhusyukannya ketika manusia takabbur.

Fudhail bin ‘iyadh ra berkata “ pemegang Alquran adalah pemegang panji islam, maka tidak layak mereka bermain dengan orang yang bermain-main, lalai bersama orang-orang lalai, banyak omong kosong bersama dengan orang yang banyak omong kosong sebagai pengagungan kepada haknya Alquran. Dan beliau juga berkata “ seharusnya pemegang Alquran itu tidak memiliki hajat terhadap siapapun dan tidak memiliki hajat kepada para khalifah selain mereka dan semestinya hajat-hajat para manusialah yang ditujukan kepadanya”.

Imam Nawawi ra berkata di kitab at Tibyan fii adaab hamalatil quran : “ termasuk adab pemegang Alquran ia harus senantiasa ada pada kondisi sempurna, karakter termulia, dan mengangkat dirinya dari seluruh larangan di dalam Alquran sebagai bentuk penghormatan kepada Alquran, dia terjaga dari pekerjaan yang hina, dia menjaga kemuliaan diri, menempatkan dirinya diatas segala kekuasaan dan menghindar dari ahli dunia, tawadhu’ terhadap para shalihin, orang yang baik, dan orang miskin, dia memiliki figur sebagai orang yang khusyuk, tenang dan berwibawa.
Telah datang dari sayyidina Umar bin khattab ra , beliau berkata “ wahai para qurra’ angkat kepala kalian, sungguh telah jelas jalan bagi kalian, dan berlombalah di dalam kebaikan, dan janganlah kalian menggantungkan hajat pada manusia.”

Belajar Alquran dan Pentingnya di dalam Membangun Peradaban (bag.3)


Oleh : Al ustadz Gus Abdullah Murtadho

Ajakan Untuk Membaca

          Betapa menakjubkan peristiwa turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW di gua Hira’ ini, di mana tartil Alquran petama kalinya diawali dengan pengulangan kalimat “bacalah!..bacalah!..bacalah!..” –sampai dengan kalimat- yang telah mengajar dengan pena. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Wahyu pertama ini di dalamnya terdapat perintah membaca, peringatan akan ilmu, belajar dan mengajar, bahkan pena yang merupakan suatu alat untuk menulis. Seakan mengatakan dengan lantang :  “ooooh…. betapa baik dan agungnya seseorang yang belajar agar keluar dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu sehingga ia keluar dari keragu-raguan yang muncul dari penyelewengan dan kesesatan lalu ia melesat menuju cahaya-cahaya haqiqi yang terang benderang dan sinar pengetahuan yang membuka cakrawala dan menyadarkan hati
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS Ibrahim, 1).

Jika  kita memikirkan sejenak ayat-ayat dari surat Al ‘Alaq tadi dan kisah turunnya yang menduduki posisi sebagai syiar akan bersambungnya kembali hubungan langit dengan bumi setelah beberapa masa vakum dari risalah samawiyah dan para Rasul, maka kita akan mendapati ayat-ayat ini dengan jelas mengajak manusia kepada aktifitas membaca dan keharusan menuntut ilmu sebab ayat-ayat dan peristiwa tersebut menyiratkan suatu pandangan bahwasannya ilmu adalah perantara yang prinsipil untuk mengetahui Sang Pencipta, pondasi kebangkitan masyarakat dan penopang berdirinya peradaban yang adigung adiluhur.

         Tersirat pula di dalamnya bahwa upaya mendapatkan ilmu itu membutuhkan ketabahan, pembiasaan, kesabaran, ketaatan terhadap guru dan memiliki komitmen dengan ucapan gurunya. Dan sungguh Rasulullah SAW telah menjadi tauladan di dalam hal tersebut ketika beliau merespon wahyu tersebut dan melaksanakan segala yang telah sampai pada beliau tanpa keraguan dan penundaan.

Tindakan malaikat Jibril mengajari Alquran kepada Rasulullah SAW pertama kalinya dengan memeluk Beliau SAW dengan kuat, lalu kemudian melepaskannya lagi dan terus demikian sampai berulang tiga kali, padahal pada setiap pelukannya Rasulullah saw merasa beliau akan mati akibat rasa sakit yang begitu kuat dari pelukan dan himpitan malaikat Jibril yang luarbiasa kuatnya, ini memiliki tujuan agar Baginda Rasulullah SAW mengetahui kadar dan nilai ilmu dan juga menunjukkan hikmah bahwa proses menimba ilmu dan menerima pengajaran itu wajib dilakukan dengan kesadaran penuh dan perhatian yang sempurna. Ayat-ayat Alquranul karim ini mengajak seluruh kaum muslimin untuk belajar dan mengajarkan serta mendorong mereka untuk membaca menerima ilmu dan mengambil faidah darinya. Maka  Nabi Muhammad SAW pun menjadi obyek khithab dari ayat : “dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan" (QS Thaha, 114).
Dan umat Beliau SAW juga menjadi obyek khithab ayat “"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya “ (QS Ali Imran, 79).

        Dan pelaksanaan anjuran belajar dan mencari ilmu itu adalah dengan menggunakan akal , penginderaan, dan seluruh potensi yang ada, Allah SWT berfirman :
 “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS An Nahl, 78).

Selasa, 04 Agustus 2015

Belajar Alquran dan Peran Pentingnya di dalam  Membangun Peradaban (bag.2)



Oleh : Al ustadz Gus Abdullah Murtadho

Belajar dan mengajar Alquran al karim.

“ Yang terbaik diantara kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya “
Kalau kita hayati , melalui kalimat ini sejak dulu kala Rasulullah saw telah menekankan akan pentingnya belajar dan mengajarkan Alquran. Beliau menunjukkan tingginya nilai aktifitas pengajaran Alquran tersebut bahkan mengajak untuk memperluas wilayah pembelajaran dan pengajaran Alquran agar dapat menjangkau seluruh manusia dimanapun dia berada dan di zaman apapun dia hidup.
Siapakah pengajar Alquran yang pertama kali ?
Sesungguhnya pengajar Alquran yang pertama kali adalah Allah SWT sebagaimana firman-Nya di dalam surat ar Rahman ayat 1- 4 :
(1). (Tuhan) Yang Maha Pemurah. (2).  Yang telah mengajarkan al Quran. (3).Dia menciptakan manusia. (4).  Mengajarnya penjelasan
Allah swt lah yang mengajarkan Alquran , menurunkannya , kemudian memilih umat mana yang akan membaca kitab-Nya dan mempelajarinya. Ini merupakan anugerah yang agung dan nikmat yang sempurna. Allah memuliakan umat tersebut lantas mengizinkan mereka mempelajari dan membaca kalam suci-Nya kapan saja mereka mau. Ini adalah nikmat tiada tara. Kalam Allah yang luhur lagi suci ini keluar melewati mulut kita, mengalir diatas lisan kita dan melintasi hati kita, sebab setiap kali kita memahami dan mentadabburinya maka artinya saat itu pula kita melintaskannya melalui hati kita.
Jika kita hayati lagi lebih mendalam, kita akan menemukan makna yang demikian : “apabila Allah swt sendiri yang mengajarkan Alquran maka artinya manusia adalah pelajar, mutalaqqy alias akseptor yang menerima ilmu secara langsung dari Tuhannya”.
 Pendidikan rabbaniy ini telah dijelaskan didalam beberapa surat. Dan konon yang pertama kali menerimanya adalah Nabiyullah Adam AS sebagai manusia pertama dan yang pertama kali menghuni dan mengolah bumi.  , Allah swt berfirman    
 “ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya “
Demikian pula seluruh para Nabi AS, mereka menerima ilmu dari Allah SWT melalui metode pewahyuan lalu mereka sampaikan kepada umat manusia. Ini artinya konon mereka belajar terlebih dahulu, baru kemudian mengajarkan apa yang telah dipelajari kepada umatnya. Lantas para Nabi AS mengajarkan kebaikan kepada manusia dan mengajak mereka kepada hidayah.
Adapun tentang bagaimana Allah telah memilih para Nabi dan mengajarkan ilmu kepada mereka, Alquranul karim telah menjelaskan kepada kita, diantaranya Allah swt berfirman :
“ Allah berfirman: "Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya “ (QS al A’raf, 144 – 145 ).
Ayat ini menjelaskan bagaimana Sayyidina Musa AS diajari dan diperintah mengambil Alkitab dengan segenap kesungguhan lalu mengajarkannya kepada kaumnya dan memberi mereka petunjuk kepada kebaikan. Maka Nabi Musa AS awalnya adalah seorang pelajar (muta’allim) dan kemudian Beliau AS menjadi pengajar (mu’allim).
Dan mengenai Nabi Yahya AS Allah swt berfiman “ Hai Yahya, ambillah Alkitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh “ ( QS Maryam, 12 ).
  Kalimat “ambilah alkitab itu dengan sungguh-sungguh” tersebut menyiratkan makna belajar, mengajar berpegang teguh terhadap hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan dalam aqidah dan iman sebagaimana pula dikuatkannya anjuran memiliki tabiat yang mulia dan melaksanakan segala kewajiban serta tanggungjawab.
Dan begitu pula firman Allah ta’ala :
“Dan Kami berikan Zabur kepada Daud “ ( QS an Nisa : 163 ) .
Pada bagian lain diterangkan bahwa Allah swt telah mengajari nabi Daud as membuat zirah besi sebagai pelindung dari bahaya pada hari peperangan , lantas Allah swt berfirman :
 “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)” (QS al Anbiya : 80).

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya menerjemahkan ilmu nadzariy  yang ada didalam Alquran kedalam penelitian , percobaan dan penemuan untuk kemudian ditransformasikan kedalam realita kehidupan manusia. Ayat ini juga mendorong kita terus melatih dan menjadikan terjemahan ilmu nadzariy tersebut menjadi praktek riil demi peningkatan kualitas hidup dan peradaban. Maka seorang muslim yang memegang teguh dan terus bersandar kepada petunjuk yang berasal dari Alquran adalah seorang sosok aktivis kehidupan yang bersifat konstruktif dan positif didalam masyarakat , figur yang unggul dalam produksi dan ikhlas didalam aktivitas serta amaliyahnya. Setelah ia bersungguh-sungguh mempelajari memahami dan menimba ilmu aqidah, fiqih, hukum-hukum syariat dan akhlaq, dia tidak berhenti hanya sampai disini, akan tetapi dia terus menerus tanpa henti mempelajari ilmu-ilmu dan penemuan-penemuan apa saja dari Alquran yang bermanfaat bagi muslimin.
Tentang Nabi Isa as Allah SWT berfirman :
“ Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil “. (QS Ali Imron, 48).
Dan pada khithabNya terhadap Sayyiduna Muhammad SAW, Allah Berfirman :  
“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” (QS Annisa, 113).
Allah swt juga berfirman :
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS Assyura, 52).

Dari ayat ini kita dapat melihat bagaimana Allah swt menampakkan kesan manis dengan menggunakan susunan yang terindah di dalam Alquran akan nikmat turunnya wahyu berupa kitab agung yang tidak memiliki satu kesalahanpun baik di depannya maupun di belakangnya disaat Rasulullah SAW melewati beberapa saat dari umurnya tanpa mengetahui apa itu Alkitab dan apa itu iman.
Dan Allah swt berfirman :
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)” (QS Al Ankabut, 48).

Belajar Alquran dan Peran Pentingnya di dalam  Membangun Peradaban (bag.1)



Oleh : Al ustadz Gus Abdullah Murtadho
*wakil ketua madrasah diniyah PIQ Singosari , cucu pengasuh PIQ KH.M. Bashori Alwi
*alumnus Rubath 'Alawiyyah , Hadromaut - Yaman


            Awal turunnya Alquran pada hati Rasulullah saw di gua Hira’ merupakan titik balik yang memisahkan dua era yang benar–benar berbeda dan bertolak belakang , yaitu era jahiliyah dengan segala kegelapav n dari kebodohan, kemunduran, kedzalimannya, bahkan tidak dianggap di dalam peradaban umat manusia dan era iman dengan segala ilmu pengetahuan, kemajuan di berbagai bidang dan aspek kehidupan, akhlaq yang mulia dan tercatat sebagai peradaban yang paling gemilang sepanjang masa dan bernilai tinggi.

Konon semua itu merupakan konsekwensi dan hasil yang didapatkan dari kesadaran dan perhatian penuh terhadap Alquran berikut totalitas dalam pengambilan petunjuk darinya. Dan demi meraih semua itu -tidak bisa tidak- haruslah didahului dengan praktek pengajaran dan pembelajaran Alquran terlebih dahulu yang mana pengajaran dan pembelajaran Alquran ini  memiliki beberapa tahap :

1. Penyampaian bacaan Alquran ( pengenalan huruf, cara baca, tajwid , waqaf dan ibtida’ ) sebagaimana ia diturunkan.
2. Penghafalan , pemahaman dan pentadabburan
3. Pengamalan dan praktek hasil pemahaman dan tadabburnya
4. Penerjemahan Alquran kedalam realita kehidupan

        Walhasil realita sejarah telah membuktikan bahwa peran belajar dan mengajar Alquran ini mampu membangun peradaban dan menyelamatkan umat manusia dari jurang system jahiliyah berikut pola pikir dan pengaruhnya lalu ia bangkit melesat menuju puncak peradaban dimana semua itu diproses dengan tahapan tarbawiy yang harmonis, halus dan manis dan jauh dari perubahan  secara tiba-tiba dan frontal yang disharmonis dan jauh dari kata indah.

“ ironisnya anak-anak kita sebagai generasi muda islam yang kita harapkan mampu membawa islam kembali ke kejayaannya, pembelajaran Alquran mereka terputus hanya di tahap pertama saja, alias bisa membaca Alquran saja sudah dianggap cukup oleh para orang tua “

Rabu, 22 April 2015

The tithe of science (zakatul 'ilm)


Ini insya' singkat tentang keutamaan mengajar ilmu pada orang lain ,dan kaitannya dengan amal yang kan kita bawa sebagai bekal di alam qubur . sebagaimana pesan maha guru kami dalam hampir setiap wejangan beliau "Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya ilmu adalah mengajar" . Mohon tashihnya .

Semoga bermanfa'at ... :)